Sunday, 25 October 2020
6 views

Maulid di Kemiri Desa Paku Diramaikan Kuda Menar

Polman Media Detektif,_ Warga RT Kemiri Desa Paku Kecamatan Binuang setiap tahunnya memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW dirangkaikan Khataman Alquran. Maulid dan Khataman Alqur an sudah menjadi budaya bagi suku Mandar, termasuk orang mandar yang sudah bertempat tinggal di Desa paku Kecamatan Binuang. Maulid di RT.Kemiri setiap tahunnya diramaikan kuda menari yang ditunggangi bagi anak anak yang khatamam Alqur an yang didampingi gadis cantik, bagi anak anak yang baru saja khatam Alqur’an dalam bahasa mandar disebut Totamma sedangkan perempuan cantik pendamping diatas kuda namanya Passaiyang Kuda menari tersebut yang di tunggangi Totamma dengan Passaiyang kelilin kampung dan dijaga empat orang lelaki setiap kuda namanya Pesarung. Tujuan pesarung tersebut tugasnya menjaga sipenunggang kuda agar tidak jatuh saat kuda menari. Namun sebelum kuda menari keliling kampung terlebih dahulu kuda menari semua orang yang hadir berkumpul di halaman masjid untuk mendengar sepatakata dari panitia.

Setelah itu pelepasan kuda keliling kampung dengan jarak tempuh kuran lebih 1 (satu) kilo meter yang diiringi musik rebana. Pelepasan kuda menari di lakukan oleh Camat Luyo Hasrul sebagai keluarga mereka yang diundang lansung oleh panitia.

Peringatan Maulid kali ini nampak hadir Kapolsek Binuang, Kabag Kepegawain Dinas Pendidikan Kabupaten Polman, Kepala Kementetian Agama Kecamatan Binuang, Kades Paku, sejumlah tamu undangan lainnya. Hikma maulid dibawakan oleh Putra sekh Japar dari pambusuang.

Menurut tokoh masyatakat RT.Kemiri, Badi kepada media ini mengatakan perayaan maulid seperti ini setiap tahunnya kami laksanakan dan dirangkaikan Khataman Alqur’an. Tahun lalu sebanyak 9 orang anak yang khataman Alkur’an, sembilan kuda menari dan Alhamdulillah Tahun ini bertambah menjadi 15 orang dan 15 kuda menari karena setiap anak yang khataman Alqur’an naik kuda menari inilah tradisi atau budaya kami orang mandar yang terus kami lestarikan dan pertahankan apalagi di Desa Paku sangat minim jumlahnya suku mandar tetapi Alhamdulillah Kepala Desa kami yang notabene bukan orang mandar tetapi Dia ikut berpartisipasi dalam Budaya kami orang Mandar, salah satu contoh istirinya ikut naik kuda menjadi pendamping totamma di atas kuda dalam bahasa daerah mandar namanya Massaiang Totamma.

Hal senada juga dikatakan camat Luyo Hasrul bahwa budaya seperti ini dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dengan meramaikan kuda menari perlu kita terus lestarikan karena Budaya ini sudah dilaksanakan sejak jaman dahulu. Perlu diketahui semua bahwa kuda menari milik orang Polman pernah diperlombakan di Istana Negara perwakilan Sulbar dalam rangka lomba Festifal Budaya Nasional, Alhamdulillah kuda menarilah yang berhasil juara 1 (satu) Nasional sehingga Budaya seperti ini perlu kita tingkatkan. (Syukur)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *