Thursday, 29 October 2020
1 views

Sukacita Berubah Mencekam, Cerita Pendukung PSM saat Diserang OTK

Detektif – Suasana sukacita gabungan suporter PSM Makassar di Kafe Komandan, Jl. KH. Abdullah Syafei, Manggarai Selatan, Tebet, Jakarta Selatan (Jaksel), mendadak berubah mencekam, Selasa (6/8/2019) malam, sekitar Pukul 18.20 WIB. Saat suasana nonton bareng (nobar) final Piala indonesia antara PSM VS Persija telah memasuki akhir perayaan juara untuk kemenangan PSM—tiba-tiba lemparan batu serta tembakan mercon melayang ke arah penonton.

Dari arah depan, sekitar puluhan massa berperawakan Anak Baru Gede (ABG) terlihat terus melempar batu ke arah Kafe yang menjadi lokasi kumpul para suporter PSM se-Jabodetabek itu. Sebagian pendukung PSM berlarian untuk menyelamatkan diri. Sementara sebagian lainnya bergeming. Mereka lalu nekat melakukan perlawanan dengan balik melempar ke arah Puluhan Orang Tak Dikenal (OTK) tersebut.

Saling serang dengan menggunakan batu akhirnya tak terhindarkan. Sebuah mobil warna putih bernopol B 1845 UVJ rusak parah di bagian belakang akibat lemparan batu. Sementara, sejumlah sepeda motor rusak. Beberapa kursi, meja, dan pecahan kaca nampak berserakan akibat insiden itu. Berikut Cerita lengkap salah satu saksi mata saat penyerangan terjadi.

Dua Kubu Suporter Sempat Nobar

Salah satu pendukung PSM, Capt Chandra Mardhika Saputra menceritakan lengkap kronologis penyerangan di kafe Komandan. Chandra mengaku saat pertandingan baru dimulai, dua kubu suporter Persija Jakarta dan PSM Makassar sementara nobar di lokasi yang sama. Pendukung PSM nonton di dalam Kafe, sementara pendukung Persija nonton dari arah luar.

Suasana awalnya kondusif saat masing-masing suporter memberikan dukungan pada tim jagoannya dengan menyanyikan yel-yel diiringi musik. Namun, setelah PSM unggul atas Persija, kata Chandra, mereka sempat memanggil kelompok yang diduga merupakan pendukung Persija dari luar kafe.

Panggilan mereka untuk ajakan bergabung bersama dan saling rangkul tanda sportifitas antar dua kubu pendukung. Namun panggilan tersebut diabaikan, dan puluhan orang terse but langsung pulang tanpa mengubris panggilan dari supporter PSM. Saat pertandingan telah memasuki akhir laga dengan keunggulan PSM 2:0, suasana mulai berubah.

“Pada saat laga mulai panas, karena sudah mulai disusupi sama (oknum pendukung) Persija, jadi kita beradu lagu dan yel-yel dan sebagainya. Dan diakhir kita coba merangkul mereka, kita panggil mereka semua, kita peluk. Tapi kayaknya mereka pulang, mereka enggak menerima baik. Ya, sudahlah,” ujar Chandra

Serangan Datang Dari Seberang Jalan

Saat laga telah usai kata Chandra, suasana depan Kafe Komandan telah sepi karena satu persatu kelompok suporter telah meninggalkan lokasi. Namun Chandra masih sempat mengamati beberapa orang di antara kelompok suporter yang masih tinggal di seberang Jl Abdullah Safei.

“Mereka mulai melempar masuk ke dalam dengan batu dan petasan. Suasana langsung mencekam, meja, kursi hingga motor yang terparkir di bagian depan kafe terkena imbas dari amukan massa.”

Chandra menuturkan, pihak keamanan yang sejak awal berjaga-jaga di lokasi tak bisa berbuat banyak karena keterbatasan personel. Lemparan batu ke arah dalam Kafe semakin menjadi. Suporter PSM yang merasa tidak terima dengan serangan tersebut, kemudian membalas dengan lemparan batu.

“Di seberang jalan mulai iseng lempar-lempar batu, tambah panas. Apalagi dari keamanan terbatas, personel polisi 2 orang dan tentara 2 orang. Kurangnya personel, ditambah kawan kita tersulut emosi karena banyak anak muda kan,” ujarnya.

Chandra yang membawa serta keluarganya saat Nobar mengatakan, bahwa dirinya memprioritaskan keamanan keluarganya dan membawa lari ke tempat yang lebih aman. Tetapi pada saat keluar dari kafe Komandan, ia terpaksa lari sekuat tenaga, bahkan sempat menyerempet motor yang terparkir di bagian luar. Untung ia tidak terkena lemparan batu dan berhasil menyelamatkan diri.

“Saya tidak memperhatikan ada yang terluka, karena saya selamatkan diri masing-masing. Soalnya, saya juga bawa  anggota kurang lebih sekitar 5 sampai 6 orang dan mengamankan dulu adek-adek saya,” ujarnya.

“Saya juga hampir kena lemparan batu, tapi terhalang motor yang ada di situ, saya mau tidak mau amankan dulu keluarga. Saya sampai tabrak dan serempet motor di parkiran, tapi Alhamdulillah selamat semua. Saya saksikan sendiri dan saya ada di lokasi, batu, gas air mata dan petasan, tidak ada molotov,” akunnya

Chandra tidak tahu persis berapa jumlah mereka yang datang menyerang, karena Kafe Komandan tempat nobar telah dikepung .

“Mereka menyebar, ada yang dari belakang dan samping. di Tebet itukan banyak gang, mereka muncul dari lorong, dan teman saya ada yang terjebak di sana,” katanya.

Saat pulang kembali ke rumah, keluarga Chandra sempat mengganti baju jersey yang dikenakan, karena ia khawatir terjadi sesuatu saat kembali ke rumah.

“Keluarga saya sudah ganti baju, beli baju di mal atau dimanalah, soalnya dia pakai jersey PSM.”

Trauma Pengunjung Kafe

Annisa Tyas Palupi merupakan salah satu pengunjung Kafe Komandan saat peristiwa terjadi. Ia bercerita saat sedang nongkrong tiba-tiba sekelompok orang dari arah depan datang mengamuk dan menghancurkan meja dan kursi di lokasi Kafe. Mereka juga melempar menggunakan batu dan petasan ke arah dalam.

“Tadi tiba-tiba menyerang pakai petasan sama lemparan batu dan mengepung, tapi ada perlawanan teman-teman dari (dalam) dan Alhamdulillah saya sempat lolos,” kata Annisa

Annisa mengatakan, beberapa di antara suporter PSM Makassar ada yang terkena lemparan batu, namun tidak mengalami luka serius hingga berdarah. Meskipun ada pihak keamanan kata Annisa, mereka tak bisa berbuat banian karena massa terus berdatangan.

“Ada yang yang terluka tapi kecil, kena batu kayaknya enggak ada yang berdarah. Polisi yang kedua datang baru mulai agak aman, setelah gas air mata,” ujarnya.

Annisa juga menceritakan bahwa dirinya mengalami trauma akibat kejadian itu. Karena batu dan petasan sempat datang ke arahnya. Namun untung saja Annisa tidak terkena apapun dan baik-baik saja.

“Tadi situasi di sini sangat mencekam dan banyak massa yang datang, sehingga saya panik. Padahal awalnya biasa-biasa saja, tapi tiba-tiba ada sekelompok massa datang menyerang.”

Annisa dan Chandra pun memperlihatkan foto dan video sebelum penyerangan itu terjadi. Ia mengaku keadaan di awal masih aman-aman saja saat mereka ngopi dan ngobrol bersama.

Laporan:i(ida sf/Rsl)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *