Saturday, 31 October 2020
4 views

Bupati Pasangkayu Keluarkan Surat Edaran Pelaksanaan Ibadah Menuju New Normal

 

Pasangkayu -Bupati Pasangkayu,DR,Ir H. Agus Ambo Djiwa MP bersama Wakil Bupati Bupati Drs H. Muhammad Saal dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) gelar rapat pembahasan dengan pengurus agama terkait pelaksanaan ibadah menuju new normal di ruang pola kantor bupati, Jalan Soekarno, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat (Sulbar), Selasa (2/6/2020).

Hadir di giat tersebut, Kajari Pasangkayu Imam S Sidabutar, Ketua Pengadilan Negeri Pasangkayu I Gusti Ngurah Agung Aryanta, Kasdim 1427 Pasangkayu Mayor Inf Ismail SE, Wakapolres Mamuju Utara (Matra) Kompol Ade Chandra CY, Sekda Pasangkayu Firman,

Kepala Kemenag Pasangkayu Mustafa Tangngali, Ketua MUI Pasangkayu Maslim Halimin, para pengurus agama Islam, Hindu Kristen dan Katolik.Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemeng) Pasangkayu, Mustafa Tangngali, mengatakan rumah ibadah yang dibenarkan untuk menyelenggarakan kegiatan berjamaah itu berada di kawasan atau lingkungan yang aman dari Covid-19.

“Pengurus rumah ibadah mengajukan permohonan surat keterangan bahwa kawasan rumah ibadahnya aman dari Covid-19 secara berjenjang kepada pemerintah desa atau kelurahan, terus ke kecamatan dan kabupaten,” kata Mustafa.

Menurut dia, rumah ibadah yang berkapasitas daya tampung besar dan mayoritas jamaah atau penggunanya dari luar kawasan, dapat mengajukan surat keterangan aman Covid-19 langsung kepada pimpinan daerah sesuai tingkatan rumah ibadah tersebut.

“Jadi seperti Masjid Al-Madaniah, harus mendapatkan persetujuan dari bapak Bupati, begitupun dengan Pura dan Gereja yang menampung jamaah skala besar,” tutur Mustafa.Ia menjelaskan, pengurus rumah ibadah harus menyiapkan petugas untuk mengawasi penerapan protokol kesehatan dan melakukan pembersihan trumah secara berkala.

“Pintu keluar masuk disetiap rumah ibadah itu hanya satu untuk memudahkan pengawasan, terpenting fasilitas cuci tangan, sabun atau hand sanitizer di pintu keluar masuk harus tersedia,” jelas Mustafa.

Dirinya menyebutkan, selain itu persingkat bacaan dalam ibadah seperti umat Muslim, ayat yang dibacakan oleh Imam dalam shalat harus surat-surat pendek saja, begitu umat Hindu, Kristen dan Katolik.

“Masyarakat yang merasa tida sehat dan baru saja dari daerah rawan Covid -19, harus sadar diri agar tidak ikut beribadah secara berjamaah sebelum menjalani isolasi mandiri selama 14 hari dan dinyatakan bebas virus dari Rumah Sakit (RS) atau Puskesmas,” sebut Mustafa.Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pasangkayu, Maslim Halimin ucapkan terimakasih kepada Bupati dan Wakil Bupati Pasangkayu karena telah membolehkan masyarakat untuk melaksanakan sembahyang di masing-masing rumah ibadah dan ini patut kita syukuri.

“Cuman saya tekankan di sini bagi semua pengurus rumah ibadah, agar jangan sampai berpikir bahwa Covid-19 ini sudah tidak ada, sehingga kita mengabaikan protokoler kesehatan yang telah ditentukan pemerintah, dengan kata lain berpikir tawakal dan berusaha menghindari penyakit,” ucap Maslim.

Ia menyarankan kepada pemerintah agar menyediakan fasilitas seperti alat pengecekan suhu tubuh di setiap rumah ibadah.

“Hal itu agar bisa diketahui setiap kesehatan jamaah yang datang beribadah secara berjamaah, karena setiap pengurus Masjid, Gereja dan Pura itu memiliki keterbatasan,” ujar Maslim.Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Pasangkayu, Imam S Sidabutar menyarankan karena ada permintaan itu diturunkan polisi dan tentara untuk menjaga setiap Masjid, Gereja dan Pura, agar masyarakat bisa patuh menjalankan protokoler kesehatan jika mengikuti beribadah secara berjamaah, dan itu ditiadakan agar antipati masyarakat terhadap petugas keamanan tidak muncul.

“Namun setiap Imam, Pastor, Pendeta dan Mangku itu tak bosan-bosan memberikan edukasi kepada jamaahnya untuk tetap memakai masker, mencuci tangan sebelum masuk Masjid atau tempat ibadah serta menjaga jarak saat sembahyang,” pesan Imam.

Kasdim 1427 Pasangkayu, Mayor Inf Ismail, mengatakan apapun keputusan Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Pasangkayu dalam menuju new normal atau kehidupan baru, kami dari Kodim 1427 Pasangkayu bersedia menjalankannya.“Kami juga meminta kepada setiap camat, untuk memberikan informasi ke kami, desa atau kelurahan apa yang membutuhkan penanganan khusus dari pihak keamanan, apabila belum semuanya tempat ibadah itu dibuka,” kata Ismail.

Sementara Bupati Pasangkayu, Agus Ambo Djiwa, menyampaikan silahkan setiap kecamatan dan desa/kelurahan untuk membuka dan menjalankan kehidupan normal, membuka tempat ibadah, asalkan sudah memastikan bahwa wilayahnya itu bebas dari Covid-19, tidak ada lagi orang dalam pemantaun (ODP), orang tanpa gejala (OTG) dan pasien dalam pemantauan (PDP).

“Saya akan keluarkan surat edaran (SE), bahwa semua rumah ibadah itu bisa dibuka dengan syarat-syarat yang ditentukan nantinya. Kecuali rumah ibadah itu hanya sekelumit saja, dimana yang sembahyang itu hanya keluarga saja, itu sudah bisa menjalankan ibadah secara berjamaah,” papar Bupati Agus.

Dirinya mengemukakan, kita (Pemda) tidak bisa menyediakan alat pengecekan suhu tubuh, karena sulit didapatkan, tinggal bagaimana pengurus tempat ibadah itu menyediakan air dan sabun untuk cuci tangan.

“Berdasarkan penilaian kita, bahwa sekarang ini kita sudah bebas dari Covid-19, bukan berarti kita harus lengah dan mengabaikan protokoler kesehatan. Semua penanggungjawab Masjid, Pura dan Gereja itu bertandatangan bahwa diwilayahnya bebas dari Covid 19 dan bersedia menjalankan himbauan pemerintah,” ujar Agus.

Agus mengungkapkan, sekarang ini kita masih persiapan menuju new normal, karena baru beberapa hari lalu kita zero (nol) positif Covid-19.“Jadi sekarang ini kita masih masa transisi menuju normal, nanti diumumkan sama pemerintah pusat bahwa kita sudah zona hijau baru Kepolisian dan TNI menjalankan prosedur mereka bagaimana menjalani kehidupan baru setelah keluar dari zona merah,” ungkap Agus(Jamal).

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *