Saturday, 31 October 2020
18 views

Dr.Ir.H.Ilham Arief Sirajuddin.MM Mantan Walikota Makassar Dua Periode 2004-2009 & 2009 – 2014 Dalam Ungkapannya

 

Makassar –Detektifonline.com Melalui komfirmasi bersama team Media online pada senin 22 Juni 2020 dihadapan Media dikatakan bahwa Tahapan Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Makassar 2020, telah berjalan kembali setelah sebelumnya terhenti akibat pandemi virus Corona (COVID-19) yang melanda seluruh wilayah Indonesia.

Dr. Ir. H. Ilham Arief Sirajuddin. MM, mantan Walikota Makassar dua periode (2004-2009) dan (2009-2014), mengungkapkan, saat ini telah muncul beberapa calon walikota makassar, sebut saja Syamsu Rijal (Dg. Ical), Danny Pomanto, Irman Yasin Limpo, Dr. Sukriansyah S Latief, Iqbal Jalil atau yang kerap disapa Ustad Idje, dan Munafri Arifuddin (Appi),

Namun sekarang, semakin mengerucut para kandidat cawalkot makassar, di karenakan peluang mereka semakin kecil dan tidak mengaktualisasikan diri. Terakhir-terakhir, tinggal empat calon yaitu Dg. Ical, Danny, None, dan Appi.

Sejauh ini, baru pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota yang pasti, yaitu Dg. Ical dan dr. Fadli Ananda, karena telah memenuhi syarat dan mengantongi rekomendasi dengan 12 kursi. Sedangkan Danny Pomanto belum ‘klop’, bahkan Partai Golkar dan Nasdem, ingin mengusung kadernya masing-masing, ucap pria yang akrab disapa Aco’ ini kepada Team Media di kediamannya.

“Kalau berbicara peluang Dg. Ical dan Fadli Ananda, dan calon lainnya, tentu belum bisa di prediksi, karena Pilwalkot makassar masih 6 bulan lagi”, tambahnya.

Dg. Ical dan Danny pernah berpasangan, pastinya mereka berdua punya jaringan dan bukan kandidat baru, selanjutnya Ical juga merupakan politisi murni, kalau bukan politisi apalagi tidak pernah berkompetisi, pasti tidak punya jaringan dan baru ingin membentuk.

Saya melihat, diantara calon-calon Walikota dan Wakil Walikota, Ical-ananda yang paling bagus, sebut saja Ical, selama ini ia hanya mengurus Palang Merah Indonesia (PMI), tidak mengurus pilkada, cukup banyak berinteraksi dengan masyarakat.

Dalam teori Pilkada, semakin banyak anda bersilaturrahmi dan bersentuhan dengan orang, maka orang juga akan semakin mengenal anda, apalagi anda melakukan suatu pekerjaan yang mulia.

“Kalau kita mau mengukur kandidat itu, caranya adalah keterkenalan dulu, apakah anda di kenal atau tidak, bagaimana anda mau di pilih kalau anda sendiri tidak di kenal orang, selanjutnya kita harus mengukur seberapa besar tingkat kesukaan orang, kedua syarat tersebut harus dijadikan patokan”, tegasnya.

Kalau melihat peluang, Danny Pomanto dan Dg. Ical tentu yang paling besar, karena kedua figur calon pemimpin inilah yang paling populer di tengah-tengah masyarakat, faktor utamanya adalah, kedua kandidat ini pernah memimpin Kota Makassar.

Selain itu, IAS yang juga memiliki julukan sebagai ‘Bapak Pembangunan Kota Makassar’ menambahkan, dr. Fadli Ananda merupakan pasangan yang sangat ideal buat Ical karena selain seorang dokter muda, ia juga merupakan tokoh milenial.

Makassar ini merupakan kota yang heterogen, simbol dari budaya Bugis-Makassar, “Kalau Ical itu dari selatan identik dengan makassar, sedangkan Fadli Ananda dari utara mewakili bugis, jadi mereka berdua ini merupakan Konfigurasi pasangan yang paling bagus”, ucap pria kelahiran 16 September 1965 ini.

Latar belakang kedua pasangan calon pemimpin Kota Makassar ini, sama-sama berasal dari penggiat sosial, dan kemanusiaan. Ical punya pengalaman yang sempurna, pernah jadi anggota DPRD Kota Makassar selama lima tahun, dan Wakil Walikota.

Artinya, Kalau secara pendekatan politis birokrat, Ical paham, dan memiliki modal. Kalau Ananda merupakan tokoh muda, inilah yang menjadi pertimbangan masyarakat dalam memilih keduanya di Pilwalkot Makassar.

Tentunya, saya sangat ingin punya pemimpin yang betul-betul membawa kemajuan, perubahan, dan menjadikan makassar lebih baik lagi kedepan. Saya pernah menjabat selama 10 tahun dan menanamkan sesuatu yang bagus.

“Dulu saya dukung Danny Pomanto, karena saya berharap konsep pembangunan itu berkelanjutan. Dalam teori pembangunan itu selalu berlanjut, dari pemimpin sebelumnya kepada yang berikutnya”, tegas IAS.

Ternyata, Danny tidak melanjutkan program-program yang sudah cukup bagus, “oleh karena itu kecenderungan saya mendukung Ical-Ananda, karena sosok ini mampu membawa makassar kedepan lebih bagus, konsep pembangunan berkelanjutan, ditunjang dengan penggiat sosial kemanusiaan oleh mereka berdua.

Kalau penggiat sosial kemanusiaan itu, orientasinya selalu membawa kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat.

“Mengurus pemerintahan itu kan prinsipnya cuma dua dan sangat sederhana bagi kepala daerah, pertama, bagaimana membuat hati rakyat itu senang, dengan cara penuhi apa yang menjadi kebutuhannya, kedua, bagaimana menjaga perutnya rakyat, artinya bagaimana mereka mudah untuk mendapatkan uang”, tutup Bapak Pembangunan Makassar ini.

Penulis : Haeder/Kaharuddin

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *